Tuesday, December 3, 2013

1st December


Mereka datang lagiiiii,,, Nida Ka Roby and the lovely beybi Atan.

Karena udah lumayan lama ngga ketemu, terus karena kebeneran ada tugas' mereka datang ke Bandung dan kita ketemuan,, aaaakk seneng deh kumpul kumpul lagi, coba ajah mereka di Bandung,, cobaa ajah.




 *someah boy

Monday, December 2, 2013

Doa Favorit


Beberapa hari yang lalu baca blog ini tentang #MenulisMuharram dan membaca ada posting mengenai doa favorit, saya baca beberapa artikelnya dan dapatlah salah satu doa favorit seseorang yang isinya:
رَبَّÙ†َا لاَ تُزِغْ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبَÙ†َا بَعْدَ Ø¥ِذْ Ù‡َدَÙŠْتَÙ†َا ÙˆَÙ‡َبْ Ù„َÙ†َا Ù…ِÙ†ْ Ù„َدُÙ†ْÙƒَ رَØ­ْÙ…َØ©ً، Ø¥ِÙ†َّÙƒَ Ø£َÙ†ْتَ اْلوَÙ‡َّابُ

[Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa Wa Hab Lanaa Min Ladunka Rohmatan, Innaka Antal Wahhaab]

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Mahapemberi (karunia).” (QS.Ali ‘Imran:8)
Pasti ngga asing juga dengan ini kan? Doa yang sering dibacakan setelah sholat, atau jika mau sholat istikharoh, juga doa yang sering dibacakan udztad setelah ceramahnya, iyaa ini adalah doa untuk diminta ketetapan hati, agar tetap pada niat yang baik, misal mau pergi pengajian tapi niatnya ngeceng ikhwan hehee,, atau malah main dan temu kangen temen yang sudah lama nggak ketemu. Ini akan saya baca juga biar nanti niat ibadah bulan januari terjauh dari Riya, atau malah sibuk belanja dan menjadi ajang narsis. Inysyaallah


(Harusnya) Tilang Pertama


Selama bawa kendaraan nggak pernah disapa Polisi sekalipun buat ditanya SIM STNK atau kena razia’ padahal pengen juga nyobain sekali-sekali, sampai akhirnya hari ini tiba.

Barusan banget pas istirahat makan siang saya ada perlu didaerah Gatsu, nah pas perjalanan pulang ke kantor, lewatlah rumah Pa Gubernur alias Gedung Sate, belokan dari taman lansia ke kiri, kebeneran banget ada pos Polisi dan saya d berhentikan (seneng loh ini awalnya,, akhirnya ditanya Polisi juga) katanya lagi ada razia dalam rangka natal dan tahun baru, saya okey-okey saja mendengarkan keterangan Bapak itu, katanya saya salah menyalakan lampu depan, harusnya lampu besar yang dinyalakan bukan yang kecil, lalu diminta SIM dan STNK yang Alhamdulillah kebeneran dibawa kemudian digiring masuk Pos Polisi dengan beberapa Polisi dan “korban” lain.

Didalam saya ditunjukan surat tilang, nama operasinya, maksud dan tujuan razia jumblah denda, harus siding kemana, dan kapan. Karena ini pertama kali saya alami dan saya kurang ngerti, jadi saya diem aja mendengarkan sambil manggut-manggut. Mungkin karena nggak ada perlawanan, atau mungkin saya kelamaan diem tanpa menanyakan sesuatu dimulailah “sebenernya ini bisa diselesaikan dengan 2 cara mba, mau disidang di Jl.Riau atau langsung di tempat?” saya bingung “kalau disidang kan Rp100.000 kalo disini boleh setengahnya” saya mengernyit mulai mengerti, tapi emang lagi ga bawa duit cash’ dan berharap bisa debit ajah hehee,, *ini sebenernya jadi saya yang malu* si Bapak Polisi itu menawarkan lagi “Mba punyanya berapa? 30? 20? Sok bilang aja” yaa Allah itu malah dia yang nawar,, saya yang tadinya duduk ngambil posisi berdiri buat ngambil uang disaku celana “kokoreh” kalau kata orang sunda.

Cepet banget kejadiannya, secepet ngasih uang – terimakasih – dan kembali ke kantor. Mungkin saya lebih respect kalau kejadiannya hanya diberhentikan lalu memberitahu bahwa saya menyalakan lampu yang salah, diperingati kemudian dipersilahkan kembali ke kantor, daripada begini kejadiannya, mengalami hal yang tidak menyenangkan, merasa awkward dengan tawar-menawar dengan seorang olnum Polisi, tahu hal-hal yang seperti ini memang sudah lama, tapi untuk mengalami dan merasa malu (malah saya yang lebih malu kayanya daripada oknum Polisi itu) ini baru pertama. Malu karena memang benar apa yang diceritakan orang tentang oknum-oknum seperti bapak tadi, malu karena menyumbang juga andil dosa, malu karena menjadi anggota jaringan orang yang terjangkit korupsi. Astagfirullah semoga menjadi hikmah.

Wednesday, November 27, 2013

Finnaly Selasar Sunaryo


Udah lamaaa banget pengen kesini dan baru kemaren-kemaren kesampaian.







Selasar Sunaryo itu ternyata lumayan jauh dan nyempil, didaerah Dago atas tapi ataaaas lagi’ kalo ada yang pernah ke Siera atau Takigawa nah naik lagi dari situ udah lumayan deket. Tahu Selasar ini awalnya dari Keluarga Burung,  terus ada beberapa orang yang tahu juga, karena memang nggak semua orng tahu dan pernah denger (sayang juga kalo jadi rame pengunjung,, ilang feel nya hehehee).

Tempatnya beneran asri, sunyi dan artisty ahh suka lah pokonya kalo harus lama disana, kebetulan lagi ada pameran anak FSRD ITB jadi liat juga karya-karya mereka’ lupa nama alirannya tapi modern kontemporer gitu lah bentuknya *sotoy  hehee.
And here we are’ The Famous Kopi Selasar, at lease pernah check in disini aja kayanya udah seneng dan berasa gaul hehee,, tempatnya enak buat ngobrol lama, menikmati sore, ngabisin waktu samaaaa,, tapi sayangnya saya disana sama 2 temen perempuan hehehhe dan tak lupa foto2. Kalo ada yang mau kesana ajak-ajak yaaa..



*Foto taken by Melon, Me and Kaka

Jagoan Ala Ahok


“Jadi Jagoan ala Ahok” judul sebuah film dokumenter yang pernah saya lihat di youtube berkat informasi dari mba Marissa, salah satu announcer Indonesia Morning Show di NET.tv yang mau liat juga boleh disini.

Melihat pengalaman seorang bangsa keturunan yang merupakan penganut agama minoritas di Indonesia, ditengah-tengah warga muslim, ditambah banyak berhembus isu SARA' yang kayanya kalo saya pikir pasti bapak ini bakal nyerah, tapi ternyata nggak, dia berjuang dan malah “melawan balik” keadaan itu, dan hasilnya bisa dilihat sampai sekarang Bapak Basuki Tjahaja Purnama atau lebih sering kita dengar pa Ahok menjadi wakil dari orang yang nggak kalah hebatnya, sekarang lagi “bebenah” ibu kota. 

Seneeeng banget lihat pasangan ini, yang digadang-gadang sebagai pengganti Soekarno – Hatta atau kalau mau lebih mundur lagi, kekompakannya seperti Gajah Mada – Hayam Wuruk. Mereka kombinasi yang pas menurut saya sampai saat ini. Pak Jokowi yang lembut karena memang mengalir darah Solo didirinya, dan pa Ahok yang galak cenderung ceplas-ceplos, bersinergi dalam pekerjaannya, dimana sang atasan terus “mblusukan” buat mengontrol masalah, melihat apa yang terjadi, dan merumuskan apa saja kebutuhannya. Sedangkan pa Ahok yang dengan cekatan melaksanakan perintah, menyusun jadwal dan membuat realisasinya. Sebuah harmoni yang indah *bahasaa nyaa ihhh

Semoga kelak makin banyak pemimpin yang baik di Indonesia Aamiin