Monday, February 19, 2018

My Sparkling Life: (Beberapa) Fakta tentang Singapura

My Sparkling Life: (Beberapa) Fakta tentang Singapura: Bissmillahirrohmanirrohim Assalamualaikum,, mau share oleh-oleh yang saya dapat dari Tour Guide, supir taxi dan sedikit pengalaman sa...

(Beberapa) Fakta tentang Singapura

Bissmillahirrohmanirrohim

Assalamualaikum,, mau share oleh-oleh yang saya dapat dari Tour Guide, supir taxi dan sedikit pengalaman saya selama liburan di Singapura kemarin.  Banyak hal baru yang menarik untuk diceritakan, beberapa kabar baik, miris atau yang sedikit mengecewakan.
Dimulai dari pertama tiba dibandara Changi yang keren, yaa namanya aja International Airport, agak beda sih sama bandara Soeta beda banget malah heheu, terlihat lebih rapi dan modern, baik dari sistem, bangunan dan suasana yang didapat. Selama dari bandara menuju hotel tempat menginap, rombongan kami menyewa bis dan lokal guide yang merupakan seorang ibu paruh baya muslimah asli Singapura, beliau warga negara Singapura keturunan Melayu yang kalau di Indonesia kita sebut Pribumi. Beliau menceritakan dengan bangga negaranya yang canggih, asri dan hijau. Dan memang itulah yang nampak dari sekitar 30 menit perjalanan kami menuju hotel. Memberitahukan sedikit peraturan, bahwa dalam bus pariwisata tanpa pegangan kami dilarang berdiri didalamnya apalagi berlarian,juga dilarang makan dan minum didalam bus seperti wajarnya kita di Indonesia, itu ada sanksi dan dikenakan denda. Beliau juga mewarning kami tentang ketatnya hukum disana, larangan membuang sampah sembarangan, juga aturan menyebrang di Singapura yang harus pada tempat dan waktu penyebrangan. Tidak terlihat ada macet selama tour singkat itu, dan itulah yang terjadi selama puluhan tahun disana, oiya mereka juga nggak pernah mati lampu loh sejak 35 tahun lalu, amazing yah.



Sebelum berangkat saya sempat blog server ke traveler bloger untuk mencari informasi dan tips selama traveling kesana, salah satu tips yang saya dapat adalah untuk membawa botol minuman, sebagai ibu hamil plus jalan-jalan bareng anak kecil saya kira memang wajib sih bawa botol air, tapi refil nya dimana? Dan ternyata memang banyak tersedia pancuran air minum yang siap minum tersebar, tapi ada kalanya juga kami kepepet beli air mineral yang kalau di kurs kan harganya sekitar 13.000 rupiah untuk 600ml air mineral, lumayan kan. Mulai dari air keran hotel yang bisa diminum, di bandara juga di tempat umum seperti tempat wisata dan masjid menyediakan keran-keran air siap minum, jadi mggak perlu khawatir selama bawa botol minum.





Saya sempat sholat dzuhur berjamaah di Masjid Sultan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Botol, kenapa disebut Masjid Botol? Jadi berdasarkan cerita dari Tour Guide kami Bapak Mohamad Nur, masjid tersebut dibangun dikawasan muslim yang rata-rata berpenghasilan rendah, yang awalnya menentang pembangunan masjid tersebut, karena tidak diberi andil dalam pembangunannya. Hingga akhirnya pemerintah menawarkan untuk menyumbangkan botol-botol kecap  yang ada banyak tersedia disetiap rumah penduduk kawasan masjid, lalu dipotong dan ditempelkan bagian dasar botol nya kebagian menara Masjid Sultan, hingga nampak sampai sekarang, potongan botol yang berjejer rapi diatas menara.





Sempat mengambil foto mainstream dekat Landmark Singapura yaitu Merlion. Kami melihat banyak sepeda berjejer disana, sebenarnya beberapa tempat juga saya sempat lihat sih bahkan di Orchahrd, banyak sepeda yang diletakan begitusaja tanpa rantai. Ternyata sepeda seperti itu memang disebar seantero negri untuk orang yang mau bersepeda, dengan tarif $1 per 30 menit (kalau nggak salah ini ada tertera dibagian atas ban belakanng sepeda) caranya gimana? Daftar dan nanti akan diberi barcode yang kemudian bisa di scan di bagian gembok setiap sepeda, gembok akan terbuka secara otomatis dan sepeda siap digunakan, kalau waktu habis ban akan ter lock otomatis, bisa diperpanjang, atau yaa simpan saja dimana pun itu saat sepeda terlock, inysaallah aman katanya. Kebayang kalau ada di Indonesia, sepertinya sudah masuk tempat besi kiloan seperti nasib mur dan baut jembatan suramadu.


Cerita tentang kebersihan, keteraturan dan betapa tertib nya negara itu ternyata bukan isapan jempol semata, selama 3 hari disana saya merasakan hal itu ditambah cerita dari penduduk lokal. Tour guide kami yang sebelumnya bercerita bahwa ada turis Malaysia yang beliau bawa membuang sampah sembarangan karena mengira tidak ada petugas didekatnya, namun tak lama punggungnya ditepuk pria berpakaian safari yang menunjukan kartu identitas sebagai polisi, maka terkena lah denda $300 atau setara Rp 3,000,000 lumayan banget kan? Nah kalau coba-coba nyogok sipetugas, kita bisa kena denda 2x lipat alias $600 jadi mendingan buang sampah pada tempatnya saja. Hukum yang berlaku di Singapura selain denda yang tinggi juga masa hukuman yang lama ditambah ada hukuman fisik, iya hukum cambuk masih berlaku disana hingga sekarang. Bukan hukum cambuk ala Aceh yang sering kita lihat itu, berpuluh cambukan oleh algojo ditengah lapangan kota. Di Singapura, cambuk dimulai dari 3 kali saja, namun setiap cambukan bisa menimbulkan akibat fatal, mulai dari berbekas seumur hidup, putus urat bahkan kemandulan bagi pria saking keras dan pedihnya cambukan yang disabetkan algojo, menurut Pak Nur ada minyak khusus di alat cambuknya, bikin ngeri yang denger. Angka kriminalitas disana terhitung kecil, begitu juga untuk kasus korupsi, mungkin karena hukum betul ditegakan disana, bagus kalau dipraktekan di Indonesia gumam saya dalam hati.

Semoga dikasih rejeki, usia, kesempatan untuk bisa jalan-jalan lagi bareng keluarga, lebih jauh lagi kalau bisa dan makin banyak negara yang dikunjungi biar nambah wawasan dan pengalaman, karena allah saja memerintahkan demikian hehe semoga bukan jadi modus baru penggunaan dalil buat jalan-jalan.

Saturday, February 10, 2018

Mendidik Anak Dengan Cinta dan Logika With Ibu Elly Risman, Psi

Bissmillahirrohmanirrohim

Assalamualaikum warrahmatullah, kemarin saya alhamdulilah berhasil cheklist salah satu point resolusi keluarga kami yang dipending dari tahun 2017, yaitu untuk ikut seminar parenting. Kenapa masuk dalam resolusi keluarga cikcikbum? Karena ini salah satu misi kita dalam mewujudkan visi sebagai keluarga. Bahkan untuk jualan gorengan saja ada ilmu dan target yang harus diraih, masa iya mendidik anak tanpa ilmu dan achivement? Setidaknya itu yang membuat kami semangat untuk belajar menjadi orang tua, selain ingat akan hisab Allah nanti.



Acara seminar yang diikuti oleh 500 orang tua pembelajar yang dominan ibu - ibu ini sukses membuat mata saya sembab, hati hancur dan isi kepala yang porak poranda setelah mendengarkan 4 jam materi dari ibu Elly Risman. Sosok psikolog yang sering saya lihat dilayar kaca, berseliweran video seminarnya di laman Facebook dan banyak saya baca nasihatnya di grup whatsup. Sosok ibu sukses yang saya lihat dan beberapa teman perhatiakan kok ada kemiripan antara beliau dengan mama saya di Bandung, dan hal itu juga dibenarkan suami hehehe. Hotel Mangkuputra yang berlokasi di dekat pintu masuk Tol Cilegon Timur dipilih karena mungkin itu lokasi yang strategis untuk para peserta yang jauh-jauh datang dari kota lain untuk mengikuti acara seminar ini. Kami diminta hadir pukul 7.30 untuk penukaran tiket dan registrasi, dan mereka memulai acara pukul 8 tepat. Bu Elly Risman (yang baru saya tahu bahwa Risman adalah nama suaminya) memberi materi pukul 9.00 - 13.00 yang terlalu cepat berlalu menurut saya.

Beliau yang hanya menyematkan gelar psikolog tanpa embel-embel lain, baru saya tahu merupakan doktor dari America untuk Phornography Addiction Therapy, di Salt Lake City, Utah-USA, juga baru saya tahu merupakan dirut dari dua yayasan, masyaallah tampilanya sederhana sekali, lembut khas wanita muslimah yang sopan. Memulai seminar dengan suara  yang agak terisak mulai membuat air mata saya menggenang. Slide awal menampilkan hasil dari pooling yang dilakukan beberapa hari sebelumnya dengan pertanyaan
1.       Diusia berapa anak anda difasilitasi gadget?
2.       Sejak usia berapa anak anda dibuatkan/ membuat akun socmed (Ig, FB, Whatsup dll?)
3.       Bagaimana pengasuhan orang tua anda kepada anda ketika kecil?
4.       Apa dampak yang anda rasakan sekarang dari pengasuhan orang tua anda tersebut?

Pertanyaan sederhana, namun hasil pooling itu membuat bu Elly Risman agak heran, apa tujuan ibu membuatkan anak dibawah 3 tahun akun socmed? Mau pamer? Tanyanya. Ingin dibilang anaknya lucu? Mau ditanya beli bajunya dimana? sombong kah yang terselip? Banyak ibu yang tersenyum malu, alhamdulillah nya saya tidak termasuk karena Syams tidak saya buatkan akun socmed, namun terlintas pula artis-artis yang membuatkan akun socmed anaknya sejak lahir, mungkinkan ibu-ibu ini follower mereka? Terka saya saat itu. Tahukan ibu, selendang kesombongan itu yang akan Allah gunting, yang tak akan bisa mencium surga jika ada sebiji dzaroh pun rasa sombong dalam hati? Tanya beliau. Dilanjutkan dengan potongan gambar anak-anak usia sekolah dasar yang dalam facebook berfoto tidak sewajar usianya, membuat miris hati ini, mereka beri judul #relisionshipgoals katanya (emoticon sedih). Juga unggahan para ibu di socmed yang bangga dengan proses facial dan meni pedi anak gadisnya yang berusia balita, tuh kakinya aja belum keluar dari bangku untuk sampai baskom air saat proses bersih-bersih kuku kaki disalon itu ujar bu Elly Risman, kalau semua dikerjakan orang lain, terus ibu ngapain sama anaknya? , kalau semua orang lain yang mengerjakan, tanya beliau. Tahukah ibu-ibu, kegiatan potng kuku, cari kutu, cukur rambut itu bonding kita sebagai ibu dengan anak? Dilanjutkan cerita masa kecilnya yang mengenang hal itu, suaranya menggetar saat masuk bagian neneknya yang terus dia sayang hingga ajal, itu karena ada proses cari kutu buu, kasih sayang nenek dan ibu saya mengalir saat proses cari kutu katanya. Saya ikutan menangis terkenang bayangan masa kecil saya juga, kangen mamah dan adek-adek perempuan saya di Bandung. Jangan kambing hitamkan cinta sebagai alasan, memfasilitasi anak dengan gadget, membuat lucu-lucuan untuk konten socmed anak agar banyak like dan komen, kedepankan logika kita sebagai orang tua, bukan diri kekanakan yang ada pada ibu bapa, ujarnya.

Banyak beliau ceritakan pengalaman hidup beliau yang strugle membesar kan 3 anak gadis di America, bagaimana keluarga mereka dengan kuat memegang teguh prinsip dasar keluarga dan menjunjung tinggi syariat ditengah lingkungan negara sebebas itu. Juga kisah beliau yang menceritakan alm ibunya saat mendidiknya waktu kecil, mungkin dari sanalah ilmu dasar parenting diadapat dan juga dilakukan berulang saat mendidik anak-anaknya. Ada satu hal yang ingin saya coba tiru dan praktekan saat mendidik anak-anak saya kelak, yaitu untuk tidak pernah memarahi dan bicara serius dengan anak dalam posisi berdiri, terdengar spele yah tapi itu sangat berkesan buat saya, sesuatu yang membuat seorang Elly Risman terisak ditengah seminar teringat akan alm ibu yang mendidiknya dengan baik, dan memintakan ampunan pada Allah saat itu. Saya? Nangis lagi dong, ingat bagai mana dulu saya juga digembleng seorang single parent, yang boro-boro ada sekolah dan seminar sebanyak sekarang, dibesarkan ibu bekerja sendirian memaksa saya untuk cepat dewasa dan mengerti sejak remaja, tapi saya tahu alasannya kenapa mama dulu begitu, mewajarkan beliau namun berusaha menjadi ibu yang lebih baik dengan ilmu-ilmu yang saya pelajari, bukankan kita tidak bisa memilih lahir dari ibu yang bagaimana, tapi kita bisa memilih untuk membesarkan anak dengan cara seperti apa? Semoga Allah membantu dengan ilmu dan kesabaran yang lebih kepada saya.



Banyak tawa dan airmata yang tumpah di 4 jam bersama bu Elly Risman dihari itu, nasihat juga pengalaman hidup yang beliau alirkan, ilmu dan pembelajaran yang saya ambil tapi juga banyak datang kilatan-kilatan kenangan masa kecil yang muncul setiap beliau bercerita, juga perasaan bersalah selama 2 tahun menjadi orang tua, dan banyak pertanyaan, bisa nggak yah? Nanti anak-anaku gimana? Namun hingga akhir materi saya menjadi optimis, walaupun banyak sekali pekerjaan rumah menggantung dalam pikiran saya dan suami, mana yang mau dirubah, apa yang mau ditambah dalam pola asuh kami terhadap anak-anak kelak,  tapi kami jadi lebih optimis inysyaallah bisa dan merasa belum terlambat untuk memperbaiki dan terus belajar menjadi orang tua. Kami diberikan contoh gol dalam pengasuhan anak, mendidik anak dengan tujuan anak pintar dapat ranking tertinggi dikelas itu old style katanya, katro, impian orang tua jaman dulu. Mendidik anak menjadi takwa dan berakhlak mulia dengan ibadah sempurna lah gol orang tua saat ini, orang tua yang menjawab tantangan masa sekarang, mendidik anak untuk menjadi calon istri/suami, mendidik mereka menjadi ibu/ayah kelak, mendidiknya menjadi mandiri dan bermanfaat untuk orang lain. Beberapa contoh gol sebagai orang tua dalam mendidik anaknya dari ibu Elly Risman yang saya dan suami juga setujui. Oiya saya datang keseminar ini rombongan, memboyong Syams dan ibu, mereka anam di playground yang disediakan, dan saya tenang untung menangis hehee, suami saya termasuk 5% bapak-bapak yang hadir, yang selalu mendapatkan apresiasi dan terimakasih dari bu Elly Risman, karena mau peduli dan menanggalkan rasa malu walaupun dengan sedikit terpaksa kan? Tanya beliau, yang dijawab lirikan senyuman suami pada saya tanda mengiyakan hehee. Acara selesai pukul 13.00 kami isttirahat untuk makan dan sholat, acara dilanjutkan 30 menit kemudian, tapi kami pulang duluan, kasihan syams mulai capek tapi nggak tidur siang soalnya rame anak kecil dan banyak mainan.





Oiya sebelum pulang saya dapet hadiah yang saya minta sendiri secara pribadi saya minta pada bu Elly Risman, disaat yang lain keluar ruangan seminar untuk istirahat, saya sendiri melawan arus maju ke panggung, mendekatinya dan bertanya “bu boleh saya peluk ibu? Saya kangen mama saya” boleh katanya dan disambut pelukan hangat dan kecupan dipipi, mata saya berair lagi, lalu saya doakan beliau selalu sehat agar bisa terus menebar kebaikan dimanapun. Semoga bisa ikut seminar parenting lain dengan berbagai sumber dan ilmu ditahun ini aamiin. Nggak sempet banyak foto dikarenakan menikmati acara, maaf yaa visualnya sedikit.

Saturday, January 27, 2018

Liburan Ke Singapura (Babymoon)

Bissmillahirrohmanirohim

Assalamualaikum,, hehhe malu gitu baru posting tulisan lagi diblogspot karena terlena sama instagram yang gampang postingnya, pendek-pendek tulisannya dan lebih banyak pembacanya (geer). Anyway awalnya saya  mau memulai postingan dengan posting resolusi 2018 seperti biasa sebagai postingan pembuka tiap awal tahun, tapiiii terlalu excited untuk cerita liburan kami kali ini. Liburan keluarga Cikcikbum terjauh sementara ini.



Liburan yang sudah dipersiapkan dari awal tahun 2017 ini diprakarsai oleh salah satu adik dari papa mertua saya, dia ingin banget sholat bersama dalam satu masjid diluar negri, walaupun belum bisa umroh bersama sekeluarga tapi kami kemarin sempat jamaahan di masjid Singapura, tepatnya di Masjid AlFalah (Orchard road) sebrang hotel kami dan masjid Sultan. Kami berangkat serombongan keluarga besar Karnen’s (Nama eyang Jakarta kakenya Suami) ada sekitar 30an orang yang terdiri dari beberapa generasi, mulai aki, nini, om, tante, sepupu, dan keponakan Syams yang membuat banyak acara bebas untuk memudahkan mobilisasi.





Kemana saja selama di Singapura? Kami menginap di Hotel Holiday Inn Express yang lokasinya percis di Orchard Road yang merupakan pusat kota Singapura juga surga dunia untuk para Shopper alias orang-orang yang doyan belanja, saya tentu saja suka liatnya buat sekedar cuci mata, tapi kalau belanja kayanknya nggak dulu deh, mungkin nanti suatu hari saat diberi rejeki lebih dari sekarang bisa tawaf dan jumroh dollar disana hihiii, tapi sementara kemarin saya hanya window shopping dan kulineran saja sekitaran Orchard Road. Deretan etalase toko barang mewah brand no wahid ada disini, sebut apa aja, semua ada. Mulai dari tas, parfume, baju, sepatu, dompet dengan brand ternama berderet berjajar rapi dan cantik, yang mana setiap pintu tokonya terbuka semeliwir aroma wewangian dan sejuk sampai ke trotoar, pass banget kena hidung saya yang sekedar jalan di trotoar jalanan Orchard Road sambil terpesona hihiii norak yaa.

Besoknya kami dan rombongan menuju Santosa Island menggunakan LRT kereta cepat dari lantai teratas sebuah Mall (Vivo City Mall). Ada banyak cara menuju sana, mulai dari menggunakan LRT, Cable car atau taxi. Sebenernya seru sih naik Cable Car tapi saya kok rasanya bakal nderedeg waktu ditengah ya (whehee ndeso). Sampai disana foto wajib didepan globe Universal Studio Singapura dan beli camilan wajib Garrets Popcorn lalu acara bebas. Ada yang masuk Under SEA ada yang sekedar jalan-jalan atau seperti papa mertua yang istirahat karena mulai kecapean dan kepanasan. Saya Syams dan suami misah jalan sendiri, awalnya mau masuk Madame touso, tapi liat harga tiketnya yang lumayan kami urung masuk dan berakhir foto disekitaran sana saja yang gratisan hihii. Makan di Malaysian food street yang ternyata 95% makananya non halal semua, jadilah kami makan makanan India (lagi) pilihan selama disana kalau nggak Indian food yaa nasi lemak, padahal kabita banget sama mie yang dimakan sama orang meja sebelah eh tahunya nggak halal, kecewa deh.




Sorenya saat yang lain main ke Marina Bay Sand (Pulau reklamasi yang saya baru tahu ternyata pasirnya itu ngangkut dari kep. Riau Indonesia sejak zaman Pak Soeharo, based on cerita pak supir yang asli melayu warga Singapura, tapi sejak pemerintahan Pak SBY sudah dihentikan, alhamdulilah) kami sekeluarga menuju Gardens by the Bay yippiiiii girang banget. Saya sudah punya tiket masuk Flower Dome dan Cloud Forrest sejak di Indonesia, beli via Traveloka dengan harga lebih murah $5 Singpore lumayan banget kan 2 tiket jadi hemat $10 (iya Syams masih free). Harga tiket di Gardens Bay the Bay itu $28 untuk dewasa dan $15 untuk anak diatas 3tahun dan free untuk anak dibawah 3tahun seperti Syams. Harga ini pun berbeda dengan penduduk lokal yang lebih murah, jadi kalau mau lebih murah jadi penduduk Singapura dulu? Hehhee. Saya masuk Flower Dome dan Cloud Forrest yang nggak pernah kebayang bakal bisa kesana dan lihat tempat yang hanya saya baca saja dari blog atau share foto saudara yang pernah kesana, alhamdulillah segala puji bagi Allah yang membuat segala yang terasa tidak mungkin menjadi mungkin. Malamnya setelah puas di Cloud Forrest, kami tidak melewatkan pertunjukan music dibawah giant tree masih dikawasan Gardens by The Bay. Pohon raksasa seperti didunia avatar itu bernyanyi dan berkelip lampunya, memainkan lagu dari beberapa negara serumpun termasuk lagu rayuan pulau kelapa dari indonesia, dan lagu romance yang bikin pengen pelukan sama suami, tapi apadaya kami duduk terpisah karena dia harus jagain stroller Syams #rumahtanggalyfe.






Hari ketiga keluarga kami sewa bus, supir berikut guide yang asli orang melayu singapura dan muslim, banyak cerita tentang negara itu yang kami dapat darinya, bagaimana mereka yang tadinya negara serumpun dan juga negara muslim seperti Indonesia dan Malaysia menjadi negara maju yang penuh dengan etnis Cina sekarang. Juga tentang disiplinnya masyarakat Singapura dan tentang hukum yang ditegakan disana, sejarah tempat-tempat yang kami datangi, juga tentang peradaban muslim disana yang sepertinya cerita-cerita itu tidak didapat oleh turis lain. Kami berfoto di landmark Singapura yaitu patung ikan setengah singa yang kebetulan hari itu sedang sehat alias tidak memuntahkan air dari mulutnya karena sedang renovasi hehe. Juga berfoto didepan Hotel Marnia yang merupakan gunungnya orang Singapura, yup mereka tidak punya gunung bahkan bukit, jadilah hotel marina itu adalah gunung dan bukit buatan manusia, yang berdiri diatas tanah yang diangkut dari Kep. Riau. Menuju masjid Sultan atau masjid botol untuk sholat dzuhur berjamaah disana, lalu belanja di Bugis street. Bangsa Bugis yang dikabarkan merupakan satu-satunya suku yang diagungkan oleh orang Singapura hingga saat ini. Belanja coklat dan gantungan kunci untuk oleh-oleh yang mainstreem banget, tapi tetep perlu buat bagi-bagi ke saudara terdekat.



Karena kami pulang dengan pesawat Air Asia, jadilah mencoba terminal Changi yang baru (Terminal T4) yang akan saya buatkan tulisannya khusus diblog inysyaallah kalau nggak males hehee. Nunggu beberapa jam tapi nggak kerasa, betah dan nyaman, ada counter makanan halal juga, Free Wifi dan Syams bebas berlarian dengan sepupu-sepupunya disana. Alhamdulilah liburan kali ini Syams sehat saya sehat, walaupun sering kenceng-kenceng dikit perutnya karena mulai memasuki bulan ke 6 masa kehamilan (oiya saya alhamdulilah hamil lagi horeey) bekal baju cukup, bekal dolar cukup, tapi kalau diajak lagi untuk liburan ke Singapura lagi saya tetep mau dong, karena masih banyak tempat yang berlum terjelajah, makanan yang belum dicoba (nggak nyobain ice cream uncle yang tersohor itu masa) dan berasa masih kurang aja dan penasaran sama Singapura. Semoga ada rejekinya lagi, dan kesempatan bisa kesana bareng anak-anak yang udah cukup gedean buat bisa bawa tas sendiri hehe, aamiin.




Saturday, August 19, 2017

Hotel Aston Tropicana Cihampelas Review

Assalamualaikum,, sudah lama sekali nggak review tempat yaah, padahal banyak banget tempat yang dikunjungi enam bulan terakhir dan bagus buat dishare tapi belum sempat, eniwey mumpung masih hangat dalam ingatan, dan emang seneng sih sama Aston grup ini jadi mau review sedikit tentang hotelnya.

Hotel Aston Tropicana Cihampelas ini berlokasi di tengah kota Bandung, bersebelahan langsung dengan Fave Hotel bahkan pool dan gym area nya conencting, deket banget dari Cihampelas walk (Maal ciwalk) dan begitu keluar lobby hotel kita bisa naik teras Cihampelas, Icon Bandung terbaru buatan Pak Wali Ridwan Kamil. Nggak terlalu jauh dari pintu Tol Pasteur, dan akses yang dekat ke Dago.

Harga yang saya dapat lebih murah dibandingkan harga yang ada di tr*v*loka, karena dapat diskon pegawai dari teman sekitar 40% Alhamdulillah banget deh, dengan budget sebesar itu kami dapat kamar Deluxe ukuran 48m persegi plus kamar mandi bathube, yang mana berguna sekali disaat Syams nangis diajak berhenti berenang karena kedinginan berenang dipool outdor dilantai 6 pagi-pagi dengan cuaca Bandung yang semriwing. Kami dapat double bed yang cocok banget buat menerima banyak tamu yang terdiri dari bocah-bocah dan bumil, dan karena kamarnya cukup luas jadi nyaman nampung banyak orang.

Sayangnya kami tidak mencoba membeli makan malam via roomservice karena penasaran beli seblak, jadi memutuskan untuk gofo*d, tapi tetep sarapan di Hotel, dan makanan di Aston memang nggak pernah mengecewakan, kalau boleh saya compare rasa makanannya dengan Aston Anyer, disana better hehee. Nggak ada foto-foto hotel yang biasa saya foto sendiri, jadi ini semua by Google image.






Nah ngomongin tentang Pool area yang ada dilantai 6 ini, karena memang Bandung sedang dingin jadi walaupun diapit bangunan hotel tetep aja kerasa smriwing banget. Nggak seperti di Aston Anyer yang menyediakan handuk langsung diarea kolam, disana saya agak kesulitan mencari handuk yang ternyata ada dan disediakan, tapi harus masuk dulu ke area cafetaria pool.


Gym area yang ada disisi area Fave hotel bisa kita akses dengan berjalan kaki, tapi sebelumnya kita harus minta freepass ticket gitu di custemer service di Lobby hotel, karena nggak niat nge gym jadi nggak bawa sepatu dan Cuma bisa liat-liat aja. Well mudah-mudahan bisa review banyak tempat lagi kedepannya lebih lengkap dan banyak informasi yang disampaikan, happy holidey...