Bermula sesaat setelah rumah kosong dari kunjungan mamah dan keluarga Cirebon, tinggalah kami bertiga. Saat sudah tenang, rumah jadi sepi dan saya mulai ngerasain capek sisa proses kelahiran, bayi yang anteng tidur saya tinggal dikamar dengan AC menyala (kasihan kalau kepanasan, pikir dalam hati, yang ternyata malah jadi penyebab..). Ditinggal nyicil beberes agak lama, sampai siangnya saya susui kok demam ya? Dichek suhu badannya pakai thermo meter ternyata bener tinggi dan sampai 39 derajat. Mulai panik, googling sana sini tanya ke tante yang kebetulan bidan, kami memutuskan kayanya langsung periksa ke dokter aja,, tapi siang-siang begini dokter anak mana yang praktek? Duh bingung, ngantuk sisa begadang, panik, lapar nyampur jadi satu. Lalu berakhirlah Syams di UGD RS. Ibu dan Anak yang langsung dirujuk ke poli anak karena ada dokter praktek (Alhamdulillah).
Syams dikasih obat demam (Yaa Allah masa bayi minum obat,, ) dan dirujuk buat ambil darah besoknya kalau nggak turun panasnya karena ada inikasi kuning. “Coba terus dikasih ASI yang banyak, kalau panasnya nggak turun langsunng ke RS aja” kata tetangga kita yang kebetulan bidan juga waktu nengok syams sorenya, seketika lemes pengen nangis liat syams yanng diem aja dengan badan nya yang mungil dan anget. “ini anaknya haus mba, dehidrasi jadi demam, ASI nya keluar?” pertanyaan itu nanceb bikin down dan nggak pede, jadi meragukan diri sendiri, apa iya ini nggak keluar ASI nya dan Syams ngempeng padahal lapar? Kenapa bisa sedikit keluarnya? Bukanya bayi tahan tanpa ASI 3-4 hari? Kok bisa jadi demam? Dan banyak kenapa yang lain saat itu dikepala.
Malamnya bu bidan itu kembali kerumah dan periksa syams yang ternyata masih demam, saat itu juga kami beberes, barang-barang yang baru diberesin kami bawa lagi untuk persiapan nginep di RS. Nelongso rasanya, sebagai perantauan, disaat jadi ibu baru anak sakit dan saya Cuma berdua sama suami, tanpa orang tua yang ndampingin, tapi harus kuat demi Syams (Lap pipi..).
Ternyata selain demam Syams juga kuning, billirubin yang seharusnya ada di 10 skala normal Syams diangka 13, bilirubin yang hanya 13 mungkin bisa di atasi dengan mimik ASI yang banyak dan dijemur agak lama. Tapi mungkin memang harus begini ceritanya, ASI yang belum terlalu banyak keluar dihari ketiga lahiran ini dan Syams lahir dimusim hujan yang bikin jarang mataharinya, walhasil kami menginap lagi di RS, bedanya kami tidur diruang tungg UGD bersama keluarga pasien yang lain, dan bikin jaitan dibawah sana nyut-nyutan.
Dua malam saya dan suami menginap, karena nggak mau Syams minum susu formula saya harus siap dipanggil suster tiap Syams nangis minta ASI. Sampai saat mulai disinar biru itu, suster menyarankan untuk pumping, karena takut nggak maximal kalau terus diangkat untuk minum. Hari pertama pumping ASI nggak keluar dan bikin stress (yaa Allah ini kenapa..) galau dan stres ini malah bikin ASI susah keluar, ASI susah keluar bikin Syams kehausan, dan karena haus bikin nangis, denger Syams nangis bikin sedih huhuhu..
Terus menerus dipumping, makan sayur katuk yang dibawa temen, susu kedelai, ngemil kacang dan makanan-makanan yang konon katanya memperbanyak produksi ASI alhamdulillah keluar,, mulai dari 30ml, 35 ml, sampai 60ml seneng banget akhirnya bisa setor ASI agak banyak ke suster. Besoknya dokter visit dan boleh pulang, yeaaa senangnya bilirubin Syams turun, suhunya normal dan semua baik, terimakasih Allah.
Tahu nggak apa yang menguatkan saya selama Syams sakit? Ternyata benar setiap penyakit ada obatnya jadi ikhtiar saja, dan ternyata bukan hanya Syams bayi yang ada disana, banyak juga bayi yang sakit dan disinar saat itu, disuntik juga dimasukan selang dan bikin getir hati oarng tuanya. Banyaknya bayi yang sakit saat itu sedikit banyak membuat saya berfikir, bukan Cuma Syams yang mengalami, dan jangan terlalu baper merasa jadi orang paling malang sedunia, dapat ujian paling berat, dan merasa Allah sedang menjauh. Malah itu menjadi jawaban doa saya selama ini, yang minta dibimbing untuk menjadi orang tua yang tangguh, orang tua yang baik, orang tua yang hebat, dan ini salah satu cara Allah mengabulkannya.
Sekarang anaknya udah gendut, makin besar, makin lucu dan mulai bersuara, tuh lagi tidur dipinggir hehehe,, udahan dulu yaa Syams nya mau mandi sore.
bukan blog serius yang isinya info penting dan spektakuler' jadi baca dengan seksama
Thursday, February 25, 2016
Sunday, January 31, 2016
(Namanya) Mohamad Syams Alfatih
Katanya proses melahirkan harus buru-buru diposting biar kenangannya masih bagus, ingetannya masih kuat, dan sebelum kelupaan buat ditulis. Tapi apa daya, kegiatan jadi ibu baru ternyata nggak semulus yang ada di sinetron, masih kaget dan belum nemu ritme yang pas, sampai nyaris sebulan kayak sekarang baru sempet nulis lagi dan posting. Sambil mencoba memanggil-manggil ingatann saya coba tulis deh proses melahirkan Syams, siapa tahu 20 tahun kedepan dia baca.
29 Desember 2015
Mamah datang dari Bandung, niatnya main aja dan memang dari awal sudah dijadwalkan datang akhir tahun, biar tahun baruan di Cilegon katanya
30 Desember 2015
Periksa kandungan dianter mamah (berhubung ke dokter siang, jadi suami nggak anter), dan dokter bilang hanya tinggal tunggu “hilal” dateng aja alias mules kontraksi, cek panggul manual sama bu dokter yang setelahnya.
“Merry ih lagi diperiksa kok jejeritan gitu”
“Takut sakit ai mamah”
“Untung dokternya baik, biasanya marah loh”
(nyengir)
Pulang dari dokter kita makan sate kambing plus nanas madu (curiganya sih ini yang bikin langsung kontraksi) seukuran jambu bangkok yang paroan sama mamah,, manis banget seger, taunya malem nya mulai nyutnytan hmmm.
31 Desember 2015
Mulesnya mulai sering tapi skalanya masih desiran ombak kecil di pantai gitu, beberapa jam sekali, dan masih anteng ngajak mamah makan Nasi Gonjleng khas Cilegon, tapi acara tahun baruan jadi diem dirumah aja (emang awalnya nggak akan kemana-mana juga sih heheu), soalnya takut aja tiba-tiba mbrojol pas lagi macet di jalan. Dan berlanjut mules semaleman.
1 Januari 2016
Sejak bangun subuh udah agak nggak enak, “mulesnya kok mulai sering yah” suami yang sejak kemarin khawatir inisiatif ngitung jarak mules dan ternyata udah 5 menit sekali (semua panik). Alhamdulillahnya karena tadi malem kayanya orang-orang pada tahun baruan, dan memang hari libur juga, jalanan kosong jadi kita bisa cepet sampe Rumah Sakit yang ada di Serang. Setelah 45 Menit perjalanan yang bikin mamah dan suami tegang (Hehehe lucu deh kalo inget muka mereka tegang gitu), saya masuk UGD dan mulai cek detak jantung bayi, datang lah bidan jaga yang bilang masih pembukaan satu and its means masih agak lama buat lahiran, sementara disebelah saya ada ibu yang sudah dari malem kontraksi, merintih dan bikin jiper dengernya. “mah jalan-jalan dulu yuk, biar cepet pembukaannya, belom sarapan juga”. Pergilah kami cari sarapan dan nggak balik lagi kesana saking takutnya sama rintihan ibu sebelah hihii.
2 Januari 2016
Setelah jalan dan terus jalan didalem rumah, muter-muter sambil tarik buang nafas panjang nahan mules (iyap rasanya kayak mules mau datang bulan) dengan niat nambah pembukaan, keluar deh si merah dari jalan lahir yang berarti si bayi setahap lebih deket buat melihat dunia. Bada ashar kami meluncur lagi ke UGD dan disambut suster dengan “ini pasien yg kemarin kabur ya?”, habis ibu yang disebelah nyeremin sus heheu.
Dokter visit lalu cek bukaan dan ternyata masih bukaan tiga kemudian bilang kalau pembukaannya berjalan normal pembukaan lengkapnya tengah malam nanti, dan percis kaya prediksi dokter jam 00:00 pembukan sudah lengkap.
3 Januari 2016
Walaupun pembukaan sudah lengkap tapi ketuban masih ga pecah (jadi proses melahirkan belum tentu ditandai dengan pecahnya ketuban, contoh nya saya), jadi di gunting deh “coorrrr” semua cairan keluar. Bu bidan yang ngebantu persalinan sebelum dokter datang bilang ”sekarang boleh ngeden ya buu,, tunggu mules datang lalu ngeden” tapi kemana hilangnya mules selama kontraksi tadi, kok tiba-tiba hilang?. Sampai akhirnya mules dan saya coba ngeden tapi nggak berhasil, proses ngeden yang lamaa banget yang saya rasakan, gagal dan terus gagal, bayi saya lama nunggu di jalan keluar. Sampai akhirnya dokter datang, dan menggunting jalan lahir (cerita mamah loh ini, saya nggak lihat, nggak denger dan nggak kerasa juga) keluarlah si jabang bayi beserta apa-apa yang bersama nya. Rasanya? Alhamdulillah, masyaallah nikmat banget, yang pernah merasakan lahiran normal pasti tahu nikmatnya. Si bayi lalu disimpan diatas badan saya untuk IMD sementara dibawah sana dokter dan bu bidan sedang mengsah kemampuannya menjahit.
Senang, terharu, bahagia dan masih nggak percaya dengan apa yang saya lalui barusan, melihat si bayi yang diarahkan untuk IMD, lalu mendengar bapak nya yang meng adzani dan komat di telinga si bayi,, Allah hu akbar ternyata begini rasanya.
Mohamad Syams Alfatih nama bayi kami, anak lelaki kami yang pertama. Semoga kelak bisa menjadi anak yang menyejukan mata, dan menyejukan hati untuk orang-orang di sekelilingnya, aamiin.
Dilanjut nanti yaa,, mumpung Syams nya lagi bobok mau disambi masak buat malem heheu.
Wednesday, January 27, 2016
Hai!
Assalamualaikum,, bissmillah mau mulai nulis lagi kayak nya heheee,, posting pertama nih tahun ini, eniwey saya baru melahirkan tanggal 3 Januari kemarin dan sukses dengan banyak jahitan dibawah sana (berarti prosesnya normal alhamdulillah sesuai keinginan dari awal hamil), heran deh sama bloger yang bisa langsung posting tulisan sesaat setelah melahirkan. Ini saya butuh waktu lebih dari 3 minggu buat penyesuaian jadwal sama bayi dan baru sekarang leluasa megang laptop hehee. (padahal nggak ada yang baca juga).
Kehidupan berubah setelah menikah? Iya
Kehidupan berubah setelah menikah? Iya
Kehidupan berubah setelah punya bayi? Pastinya
Kamunya berubah nggak? Hmmm.. gimana yah.. hmmm... kayanya sih
Tuesday, December 15, 2015
Resep Roti Goreng
Ini kayanya nggak usah dibuat postingan, tapi pengen bilang aja kemaren abis bikin ini heheu. Wira-wiri gambar kreasi dari roti tawar di medsos, bikin pengen nyoba dan dimulai dari yang paling gampil.
Yang dibutuhkan cuman:
- Roti tawar
- Telur
- Tepung panir
- Kornet
- Keju
- Minyak goreng
- Merica
Caranya potong roti tawar menjadi dua bagian, gilas roti agar tidak berongga, beri kornet dan keju dipermukaannya lalu gulung, masukan ke telur yang sudah dikocok dengan sedikit merica, lalu selimuti dengan tepung panir, goreng hingga cokelat keemasan. Karena percobaan awal kebuka-kebuka, jadi saya tusuk pakai tusuk gigi saat menggoreng, dan ternyata membantu. Udah gitu aja sharenya, foto hasilnya unyu yah,, foto dapur setelah bikin ini nggak layak tampil jadi didelete heheu.
#I.V.B 5 Vendor Photo & Wedding Video Bandung
Sering banget ke Wedding Expo malah bikin tergiur dengan hasil foto-foto nya, sering youtubeing video nikahan orang juga bikin pengen dan suka sama konsepnya, tapi waktu tanya harga dan dengar jawaban mereka (muka lempeng sambil manggut-manggut) langsung mlipir cari booth lain hehee.
Pertemuan awal dengan Awani Fotografi ini berawal dari lihat-lihat contoh model kebaya dan MakeUp di Aas Riyanti, mereka mitra vendor, dan tanpa pikir panjang lagi saya langsung setuju saat ditawari paket foto dan video dari Awani Photografi. Kualitas fotonya bagus dan dikemas dengan exlusive. Kalau boleh ngasih masukan sih, barangkali tentang hasil videonya, hehee. Coba aja sebelumnya saya tunjukan contoh yang diinginkan, kayanya mereka bisa.
Banyak paket yang ditawarkan, mulai dari Prewedding, Pengajian dan Siraman jelang nikah, sampai paket hari-H. Tapi karena saya memang tidak melakukan Prewedding foto seasson seperti yang lain, terus untuk acara pengajian jelang nikah ada temen-temen Kopeahasanah yang bantu, maka saya putuskan untuk mengambil paket di Hari-H nya saja.
Teh Erna dari pihak Awani Fotografi baik banget dan sangat membantu untuk urusan dokumentasi. Banyak contoh foto yang saya kirim dengan “teh nanti ada foto gini ya” dan banyak request lain hehe. Anyway.. mereka rekomen banget buat dokumentasi hari special kalian. Bisa kontak langsung orangnya yaa, klik aja link nya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

